Investasi Rempang Eco City Capai Rp 381 T, Dibagi Jadi 7 Zona

Jakarta – Pulau Rempang selain akan menjadi lokasi pusat industri pembuatan kaca panel surya, dan disulap menjadi Eco City dengan investasi ditaksir mencapai Rp 381 triliun.
Menurut kordinator Pusat Unggulan Iptek Sumber Daya Pesisir Universitas Maritim raja Ali Haji (UMRAH), Wahyudin, di Rempang Eco City nantinya akan dibangun kawasan kampung nelayan yang terintegrasi.

Dalam master plan yang disusun BP Batam, dibuat zonasi khusus yang memadukan perkampungan nelayan, dermaga, pusat pelelangan ikan dan hasil laut, serta fasilitas penunjang lainnya. Menurut Wahyudin, proyek ini akan menjadi percontohan atau pilot project penataan kampung nelayan.

“Diberbagai tempat, fasilitas tersebut umumnya terpisah. Tapi di Rempang, akan menjadi Kawasan terpadu yang memiliki nilai tambah ekonomis bagi nelayan dan industri pengolahan hasil laut,” jelas Wahyudin dalam keterangannya, Selasa (28/11/2023).

Hampir dua dekade kemudian, pengembangan Pulau Rempang tampak kian menjanjikan. Masuknya investasi dari Negeri Tirai Bambu seolah menyalakan harap. Investasi Rempang Eco-City pun ditaksir mencapai Rp 381 triliun, serta diperkirakan akan menyerap tenaga kerja langsung.

Secara rinci, pengembangan Pulau Rempang juga akan dibagi menjadi 7 zona yang berbeda. Seperti Rempang Integrated Industrial Zone, Rempang Integrated Agro-Tourism Zone, Rempang Integrated Commercial and Residential, Rempang Integrated Tourism Zone, Rempang Forest and Solar Farm Zone, Wildlife and Nature Zone, dan Galang Heritage Zone.

Menurut Wahyudin, tahap pertama pembangunan akan dilakukan di zona industri. Tahapan ini tidak berdampak pada kehidupan nelayan karena bukan dilakukan di areal perikanan tangkap. Tahapan kedua di Desa Blongkeng termasuk zona Kawasan perikanan tangkap, akan berdampak pada biota laut.

“Tapi dampaknya tidak terlalu signifikan dan bisa diminimalisir. Demikian pula terhadap nelayan.

Daerah tangkapnya luas dan bergantung pada musim. Ada Musim Utara yang sekarang terjadi sampai bulan Februari, nelayan cenderung akan bermigrasi ke daerah yang teduh,” jelas Wahyudin.

Menurut doktor ilmu lingkungan ini, letak geografis PulauRempang yang berada di Tengah akan menjadi pusat kegiatan perdagangan hasil laut strategis. Fasilitas dermaga dan perdagangan laut yang dimiliki Pulau Rempang akan menyedot nelayan dari berbagai pulau di sekitar untuk bertransaksi di Pulau Rempang.

Demikian pula dengan di bangunannya jembatan yang menghubungkan yang menghubungkan Pulau Batam, Rempang, dan Galang tak hanya menjadi sarana penghubung saja. Jembatan Barelang juga berperan sebagai sarana penggerak roda ekonomi serta pemerataan pembangunan.

Pengembangan Pulau Rempang tampak kian menjanjikan. Masuknya investasi dari Negeri Tirai Bambu seolah menerbitkan harapan.

Investasi Rempang Eco-City pun ditaksir mencapai Rp381 triliun, serta diperkirakan akan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 306 ribu orang.

“Master plan yang dirancang pemerintah untuk Rempang Eco City, menurut saya, tidak meninggalkan nelayan. Posisi nelayan dilindungi, bahkan secara ekonomis akan lebih sejahtera dan moderen. Ribuan pekerja yang akanmasuk ke Rempang dari berbagai daerah akan menjadi market tersendiri. Ini harus dikawal,” pungkas Wahyudin. https://berikanlah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*