Reorientasi Adalah: Pengertiannya dalam Teks Biografi, Sejarah, dan Contohnya

Jakarta – Reorientasi adalah salah satu struktur dalam teks bahasa Indonesia. Biasanya, struktur teks ini dapat dijumpai pada teks naratif, seperti teks biografi dan teks cerita sejarah.
Reorientasi dicantumkan pada teks guna meninjau kembali wawasan yang telah diberikan. Nah, jika detikers ingin belajar tentang orientasi lebih dalam, simak penjelasan artikel ini sampai habis, ya.

Reorientasi Adalah?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mendefinisikan orientasi sebagai peninjauan kembali wawasan (untuk menentukan sikap dan sebagainya). Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diartikan bahwa reorientasi adalah struktur/bagian yang akan meninjau kembali keseluruhan isi teks.

Reorientasi terdapat pada teks biografi dan teks cerita sejarah. Pada kedua teks tersebut, reorientasi adalah struktur yang digunakan sebagai penutup teks lantaran memuat kesimpulan dari keseluruhan cerita di dalamnya.

Menurut buku ajar Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas 10 Edisi Revisi 2017 oleh Suherli, dkk, biografi adalah riwayat hidup yang ditulis orang lain. Teks biografi menyajikan sejarah, peristiwa, karya, maupun penghargaan yang diraih tokoh dalam cerita.

Sementara itu, teks cerita sejarah menurut buku Cara Cepat Menguasai Bahasa Indonesia SMA/MA kelas X,XI,XII oleh Tomi Rianto, adalah teks yang menceritakan tentang fakta/kejadian/kisah hidup manusia dengan mengolah fakta sejarah sebagai latar terjadinya peristiwa.

Reorientasi dalam Teks Biografi
Struktur teks biografi dibagi menjadi tiga, di antaranya sebagai berikut:

Orientasi
Kejadian Penting
Reorientasi.
Pada teks biografi, reorientasi adalah bagian yang berisi kesimpulan mengenai rangkaian peristiwa yang telah diceritakan sebelumnya. Biasanya, reorientasi pada teks ini juga menyertakan komentar evaluatif untuk pembacanya.

Reorientasi dalam Teks Cerita Sejarah
Sama halnya dengan teks biografi, teks cerita sejarah juga dibagi menjadi tiga struktur, di antaranya:

Orientasi
Urutan Peristiwa
Reorientasi.
Reorientasi pada teks cerita sejarah adalah bagian yang berisi komentar pribadi penulis mengenai peristiwa sejarah yang diceritakan.

Contoh Reorientasi dalam Teks Biografi
Berikut adalah contoh reorientasi dalam biografi pahlawan nasional Dewi Sartika

Orientasi
Dewi Sartika adalah seorang putri dari pasangan priyayi dari Jawa Barat yang lahir pada tanggal 4 Desember 1884. Dewi Sartika memiliki orang tua yang ingin memiliki seorang putri berpendidikan, walaupun pada saat itu hal tersebut bukan merupakan hal yang sesuai dengan adat.

Setelah ditinggal oleh sang ayah, Dewi Sartika diasuh oleh paman yang merupakan seorang Patih Cicalengka. Dari pamannya, Dewi Sartika mengetahui mengenai Sunda, sementara pengetahuan mengenai budaya Barat.

Kejadian Penting:
Sedari kecil, Dewi Sartika sangat tertarik dengan dunia pendidikan. Sejak ia berusia 10 tahun, ia sudah mengajar kepada anak-anak yang ada di Cicalengka untuk bisa menulis, membaca, dan berbicara bahasa Belanda.

Pada tahun 1902, Dewi Sartika meyakinkan pamannya untuk mendirikan sebuah sekolah untuk perempuan. Akhirnya di tahun 1904, Dewi Sartika bisa mendirikan Sakola Istri yang merupakan sekolah pertama di Hindia Belanda.

Akibat dari niat baik Dewi Sartika ini, ia mendapatkan dukungan positif dari berbagai pihak. Atas jasa beliau di bidang pendidikan, Dewi Sartika diberi anugerah ‘Bintang Jasa’ oleh pemerintah Hindia Belanda.

Reorientasi:
Sampai saat ini, jasa yang dilakukan oleh Dewi Sartika tidak bisa dilupakan dan sangat memberikan inspirasi serta harapan bagi banyak orang, terutama perempuan dalam mewujudkan cita-citanya.

Contoh Reorientasi dalam Teks Cerita Sejarah
Bentuk reorientasi dalam cerita sejarah bisa dipelajari lewat cerita sejarah Asal-usul Nama Kota Surabaya

Orientasi:
Setiap daerah pasti mempunyai cerita tersendiri dalam pemilihan nama, seperti Kota Surabaya ini. Setidaknya, ada tiga keterangan tentang asal-usul nama Surabaya.

Urutan peristiwa:
Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Keterangan pertama tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 M.

Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu, Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 M yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Namun, Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, G.H. Von Faber dalam karyanya, En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya, nama Surabaya berkaitan erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu.

Lama-lama, Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu buaya sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura.

Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian tersebut berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis. Sebab, keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam Monumen Suro dan Boyo.

Pada tahun 1975, Wali Kota Surabaya R. Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Nama Surabaya pun diartikan berasal dari kata-kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.

Reorientasi:
Keterangan mengenai asal-usul nama kota tersebut di antaranya telah dibuktikan lewat berbagai peninggalan. Namun, masih ada kemungkinan bahwa asal-usul penamaan Kota Surabaya hanyalah sebuah cerita yang berkembang turun-temurun di masyarakat. https://kebayangkali.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*