“Sihir” Emas Pikat Bank Sentral Dunia! Ikut Beli Nih?

Jakarta, CNBC Indonesia Emas masih menjadi salah satu investasi menarik saat ini. Bahkan, kilau emas tidak hanya memukau masyarakat saja tapi juga Bank Sentral di berbagai negara. Aksi borong emas ini dilakukan sebagai antisipasi dan diversifikasi cadangan kekayaan tatkala negara mengalami resesi.

Seperti diketahui, berdasarkan data World Gold Council (WGC) hingga November 2023 menunjukkan, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memiliki 8.133,5 ton emas dan jadi pemilik emas terbesar di seluruh dunia. Bukan cuma AS, fenomena borong emas saat ini terus dilakukan oleh bank sentral beberapa negara.

Pada Agustus 2023, data WGC menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral dunia pada Agustus 2023 mencapai 77 ton. Bank sentral China (PBoC) masih menjadi pembeli terbesar dengan memborong emas sebanyak 28,9 ton pada Agustus 2023.

Pemborong berikutnya adalah bank sentral Polandia (14,9 ton), Turki (14,7 ton), dan Uzbekistan (8,7 ton).

PBoC mulai rajin memborong emas sejak November 2022, Pembelian emas oleh PBoC pada bulan tersebut adalah yang pertama kali sejak September 2019 atau lebih dari tiga tahun sebelumnya.

China kemudian terus menumpuk cadangan emasnya dan menjadi pemborong terbesar tahun ini. Pada Januari-Agustus 2023, PBoC sudah memborong emas sebanyak 154,9 ton, Jumlah tersebut setara dengan 40,3% dari total pembelian emas global pada periode tersebut.

Hal yang dilakukan China tersebut seiring dengan pembukaan perbatasan internasional mereka danlesunya ekonomi Sang Naga serta upaya mereka mengurangi cadev dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

Indonesia sendiri ada di urutan 45 dengan total cadangan emas mencapai 78,6 ton. Bank Indonesia terakhir kali melakukan pembelian pada 2017 dengan jumlah 2,5 ton.

Pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank-bank sentral dunia ini sebagai diversifikasi cadangan kekayaan untuk mengantisipasi kemungkinan resesi global. Tingginya angka pembelian emas membuat harga logam mulai ini cenderung stabil, meski di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang tidak menentu seperti sekarang ini. Tak heran jika minat masyarakat berinvestasi emas sebagai safe haven tetap tinggi.

Bahkan harga emas diprediksi masih akan menguat dan bisa mencapai ke posisi tertingginya, seiring ketidakpastian kondisi global.

Analis DFCX Futures Lukman Leong mengatakan, ketidakpastian geopolitik saat ini masih menjadi salah satu pemicu penguatan harga emas, menyusul tingginya tensi perang Israel-Hamas dan juga Russia-Ukraina. Disisi lain hubungan China-Amerika Serikat (AS) terus memanas dan menyebabkan trend dedolarisasi.

Pemerintah China pun terus menunjukan sikap ketidak sukaannya terhadap peran mata uang US$ sebagai mata uang global dengan mengakumulasi emas dalam jumlah besar.

“Potensi emas masih cukup besar. Koreksi pada harga emas merupakan kesempatan untuk masuk. Saya melihat downside emas bisa ke kisaran US$ 1850-1900 per troy ons yang merupakan harga menarik. Untuk upside US$ 2.100 hingga US$ 2.200 per troy ons tahun depan,” jelas Lukman kepada CNBC Indonesia.

Sementara itu, data klaim pengangguran juga dapat meresahkan pasar dan berpotensi membuat The Fed menurunkan suku bunga, seiring melambatnya perekonomian AS.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan harga emas karena mengurangi opportunity cost dibandingkan memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

“Meningkatnya ekspektasi pasar terhadap dimulainya siklus pemotongan suku bunga The Fed pada awal tahun 2024 telah menjadi kekuatan utama yang mendorong harga emas lebih tinggi selama seminggu terakhir,” ujar Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities, kepada Reuters.

Pejabat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) sepakat pada pertemuan kebijakan terakhir mereka bahwa mereka akan melanjutkan dengan “hati-hati” dan hanya menaikkan suku bunga jika kemajuan dalam pengendalian inflasi tersendat.

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi. https://sayurkole.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*