Tabungan Orang RI Terendah Sejak 1999, Tanda Hidup Makin Susah?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) per Desember 2023 hanya mencapai 3,8%. Posisi per Desember ini adalah yang terendah sejak 1999 atau sejak Era Reformasi. Rendahnya DPK bisa berdampak kepada kemampuan bank dalam menyalurkan kredit ke depan.

Bank Indonesia (BI) mencatat DPK per Desember 2023 mencapai Rp8.234,2 triliun atau naik 3,8% (year on year/yoy) sementara itu kredit perbankan tercatat Rp7.044,8 triliun atau naik 10,38% (yoy). 

Pertumbuhan DPK sebenarnya sudah lebih tinggi dibandingkan November 2023 (3,04%) dan Oktober 2023 (3,43%). Namun, bila dilihat dari posisi per Desember atau akhir tahun maka pertumbuhan tersebut adalah yang terendah sejak 1999 atau dalam 24 tahun terakhir.

Pada periode tersebut, pertumbuhan DPK terkontraksi 1,29% setelah Indonesia mengalami masa gelap Krisis Moneter 1997/1998 di mana Indonesia mengalami krisis multidimensi dari ekonomi, politik, hingga sosial.

Pertumbuhan DPK ini dipengaruhi DPK di sektor korporasi yang tumbuh 5%, dibandingkan 3,1% pada bulan November. Sementara itu, DPK perorangan hanya tumbuh 3,2%, turun dibandingkan 5,1% pada November 2024. Dari data BI, tabungan hanya tumbuh 2%, giro 3,9% dan simpanan berjangka 5,4% pada akhir 2023.

Pertumbuhan DPK merosot tajam tahun 2023 dari 9,01% pada Desember 2022 menjadi kisaran 3% pada Oktober-Desember 2023. Dalam kurun waktu yang sama pertumbuhan kredit juga melandai dari 11,35% per Desember 2022 menjadi kisaran 8% pada September-Oktober sebelum naik menjadi 10,38% per Desember 2023.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Januari 2024, Rabu (17/1/2024), BI tidak lagi mencantumkan pertumbuhan DPK. BI hanya memaparkan perkembangan kredit perbankan dan ketahanan likuiditas bank yang diukur dari rasio Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK).

Gubernur BI Perry Warjiyo bahkan menolak menjawab pertumbuhan DPK meski ditanya oleh jurnalis. Perry menjelaskan DPK tidak sepenuhnya menunjukkan kemampuan pembiayaan. Ada beberapa komponen lain sehingga bisa menggambarkan lebih jelas pembiayaan dari perbankan.

“Jangan kemudian kemampuan funding hanya diukur dari DPK. Kalau kita lihat sisi asetnya bank itu ada kredit ada surat-surat berharga dan tentu juga yang komponen near cash,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/1/2024).

Sementara pada periode Desember 2023, AL/DPK berada di angka 28,37%. Angka ini merupakan yang terendah sejak 2019. Lebih lanjut posisi saat ini juga masih sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata enam tahun terakhir yang berada di angka 28,21%.

DPK Rendah, Kredit Aman?

Rendahnya pertumbuhan DPK bisa berimplikasi pada banyak hal. Di antaranya adalah rebutan dana murah masyarakat hingga perang suku bunga. Situasi ini juga menjadi pertanyaan publik pada dasarnya apa yang terjadi dengan perbankan RI khususnya perihal likuiditas dan kemampuan menyalurkan kredit. Mengingat hal ini merupakan indikator penting tumbuhnya perbankan di Indonesia.

BI mencatat suku bunga kredit menurun sementara suku bunga simpanan tercatat meningkat pada Desember 2023. Menurut laporan BI, rata-rata tertimbang suku bunga kredit sebesar 9,25%, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,29%.

Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka meningkat pada tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan, masing-masing sebesar 4,71%; 5,26%; 5,52%; dan 5,74% pada Desember 2023. Di sisi lain, suku bunga simpanan berjangka tenor 24 bulan pada Desember 2023 sebesar 4,16%, menurun dibandingkan November 2023 sebesar 5,40%.

Hal ini menunjukkan bahwa perbankan mulai mengorbankan profitabilitasnya demi dapat menjalankan fungsi intermediasinya. Ini juga terlihat dari net interest margin (NIM) perbankan yang kian tergerus.

Bila melihat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 9,74% sebesar Rp6.966 triliun per November 2023. Jumlah itu naik dari sebulan sebelumnya sebesar 8,99% dan mencapai batas bawah target BI.

Sementara itu, NIM perbankan tercatat 4,83% per November 2023, turun tipis dari sebulan sebelumnya sebesar 4,85%. Sebagai informasi sebelum pandemi Covid-19 atau pada 2019, NIM perbankan pada level 4,19%. Tahun sebelumnya NIM masih berkisar lebih dari 5%.

Naiknya bunga deposito seiring dengan seretnya DPK, terutama giro.

Giro menjadi komponen DPK dengan penurunan paling tajam pada penghujung tahun. Sebagai perbandingan, pada awal semester II/2023, giro tumbuh 13% yoy, sedangkan Desember 2023 hanya 3,9% yoy.

Jika menilik lebih jauh ke simpanan perbankan, simpanan dalam bentuk rupiah dan valas yang masing-masing tumbuh sebesar 3,5% (yoy) dan 5,8% (yoy) per Desember 2023.

Sementara berdasarkan golongan nasabah, DPK dalam bentuk giro, tabungan, dan simpanan berjangka turut mengalami kenaikan masing-masing sebesar 3,9% yoy, 2% yoy, dan 5,4% yoy.

BIFoto:

Saat ini, kredit perbankan didominasi untuk Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp3.198,8 triliun atau tumbuh 10,7% yoy, Kredit Konsumsi (KK) sebesar Rp1.998,3 triliun yang naik 8,9% yoy, dan Kredit Investasi (KI) sebanyak Rp1.847,7 triliun atau tumbuh 11% yoy.

Kuatnya pertumbuhan kredit baik secara persentase maupun nominal terlihat cukup baik, namun dengan DPK yang tumbuh jauh di bawah pertumbuhan kredit menjadi hal yang perlu dipertanyakan dan ketakutan pasar tersendiri. Pasalnya, bank menyalurkan kredit menggunakan DPK yang tersedia.

Namun, jika pertumbuhan DPK secara berangsur-angsur tumbuh jauh di bawah pertumbuhan kredit, maka bukan tidak mungkin perbankan menjadi kesulitan menyalurkan kredit bagi nasabah karena likuiditas yang kering. Hal ini secara berkepanjangan dapat berdampak bagi keberlangsungan industri perbankan Indonesia.

DPK Ditarik Nasabah, Masyarakat Makan Tabungan dan Pilih Beli Properti

Penarikan DPK oleh nasabah terjadi setelah pada masa Covid-19, nasabah cenderung menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan khususnya sebagai dana darurat.

Di saat situasi cukup membaik dan stabil, masyarakat menarik dananya dan mulai meningkatkan konsumsinya hingga menggunakan kredit untuk ekspansi bisnis dan kepemilikan properti.

Selain itu, pergeseran pola menabung masyarakat pun menjadi salah satu faktor menurunnya pertumbuhan DPK.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani mengatakan bahwa kaum anak muda/milenial saat ini sudah tidak tertarik lagi menaruh uangnya di tabungan. Kaum milenial, kata dia, kini memiliki banyak pilihan untuk menabung di instrumen lainnya seperti saham dan obligasi.

Fenomena masyarakat yang kini mengandalkan tabungan untuk konsumsi atau makan tabungan juga membuat DPK menurun. Data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan  tabungan masyarakat di semua jenis kelas turun. Penurunan paling tajam terjadi di kalangan masyarakat kelas bawah atau dengan tabungan di bawah Rp 1 juta.

Data MSI menunjukkan penurunan tingkat tabungan masyarakat kelompok lower sudah turun terus sejak Mei 2023. Kondisi ini ikut menekan porsi belanja mereka.

Bagi kelompok middle dan higher, porsi tabungan mereka juga berkurang tetapi tingkat penurunannya tidak secepat kelompok lower.

Indeks tabungan kelas masyarakat

Indeks tabungan kelompok bawah turun drastis dari kisaran 100 pada Januari 2022 ke 43,5 pada Desember 2023. Kelompok menengah, indeks tabungannya berkurang dari 100 pada Januari 2022 menjadi 97,4 per akhir Desember 2023
Kelompok atas, indeks tabungannya berkurang dari 100 pada Januari 2022 menjadi 97,2 pada Desember 2023.

Kelompok lower atau bawah adalah konsumen dengan rata-rata tabungan kurang dari Rp 1 juta, menengah antara Rp 1 -10 Juta, atas adalah di atas Rp 10 juta. https://surinamecop.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*